Kejadian itu terjadi hampir lima atau enam kali tiap Ali dan Sam jalan
bersama. Seperti biasanya, mereka hanya tertawa mendengarnya. “Tidak,
kami bukan saudara,” jawab Sam.”Kami tanya sepasang teman yang sangat
baik.”
Selang bertahun-tahun, Ali dan Sam akhirnya mengetahui bahawa teguran
orang lain itu ternyata benar. Melalui sebuah pencarian, Ali yang
dijadikan anak angkat sejak kecil itu menemukan kembali ibu kandungnya.
Ali pun mendapati ayahnya yang tak lain adalah ayahnya Sam juga.
“Kami tahu bahwa kami mirip. Kami memiliki mata almond dan rambut perang
yang sama, “kata Sam. ”Tapi, kami tidak tahu bahwa kami ternyata
saudara kandung.”
Sahabat Dekat
Sam (43 tahun) pertama kali bertemu Ali (41 tahun) pada 1994.
“Aku ketika itu berusia 27 tahun dan Ali umurnya 25 tahun. Kami tinggal
hanya terpisah beberapa rumah di Bristol. Jadi, kami sering saling
bertemu,” kata Sam. ”Ketika kami semakin dekat, kami mulai sering pergi
bersama ke karaoke setiap malam Jumaat. Kami berdua menonton wayang dan
bernyanyi bersama-sama.”
Ali juga menjadi teman suami Sam, Ian. Setelah Ali bertemu Mark yang
kelak menjadi suaminya, dia memperkenalkannya kepada Sam dan Ian pada
tahun 1996.
“Kami selalu saling menceritakan segala sesuatu,” kata Sam. ”Saya
katakan pada Ali semua tentang masa kecilku. Bagaimana ibuku yang begitu
dalam mencintaku. Dia menikah dengan ayahku, Terry Wilson, ketika baru
berusia 18 tahun. Setelah dua tahun bersama-sama, mereka punya bayi.”
Sam melanjutkan ceritanya. “Tapi ketika aku lahir, tekanan hidup menjadi
terlalu banyak. Mereka akhirnya berpisah ketika aku baru berusia
beberapa bulan. Ali tahu aku kehilangan hubungan dengan ayah saya hingga
saya remaja,” katanya. ”Selama beberapa tahun, saya melihat ayahku
seperti orang asing. Kami bukan seperti ayah dan anak”
Cerita masa kecil Ali berbeza lagi. Dia sudah dijadikan anak angkat
ketika dia masih bayi. Dia tahu kelahiran dan nama ibu kandungnya,
tetapi tidak pernah merasa perlu untuk mencari orang tua kandungnya.
”Saya hanya perlu satu ibu dan ayah, ” katanya tentang orangtua
angkatnya.
Mula Mencari
Memiliki anak telah mengubah pandangan Ali tentang hidup. ”Itu membuat
saya mulai berfikir tentang ibu kandungku. Untuk pertama kalinya, aku
menjadi penasaran tentang dia,” kata Ali. ”Saya duduk di depan komputer
dan menaip namanya ”Susan Hewitt” di Google. Tapi, tidak ada namanya.”
Pada musim dingin lalu, Ali akhirnya menemukan jawapannya melalui
chatting di jejaring sosial. Ali menanyakan apakah ada yang tahu Susan
Hewitt. ”Aku terkejut ketika ada yang tahu ibu kandungku. Aku tak boleh
percaya ketika dia memberikan saya nombor Susan,” kata Ali.
Ali cuba mengirim pesanan ringkas tapi tidak ada jawapan. Sam akhirnya menyarankan Ali untuk menelefon teus Susan.
“Saya gugup ketika bertanya,’Apakah Anda Susan? Apakah Anda lahir di
tahun 1940-an?’. Ketika dia kataya, aku kembali bertanya,’Apakah Anda
punya bayi pada Disember 1969?’,” kata Ali. ”DIa berkata,‘Ya’.”
“Untuk sesaat, tak satu pun dari kami berbicara. Dia bertanya apakah
hidupku bahagia. Setelah bertahun-tahun, aku bercakap dengan ibu
kandungku. Itu seperti tidak nyata. Dia bertanya apakah aku ingin
bertemu dengan dia dan saya kata ya segera.”
Bertemu Ibu
Hanya beberapa hari kemudian, Ali pergi ke rumah ibu kandung. ”Saya
sangat gugup ketika aku mengetuk pintu,” kata Ali. ”Saya gementar ketika
Susan membuka pintu. Tapi, dia menyapa saya dengan senyum ramah. Kami
berbicara tentang kehidupan kami berdua. Aku menunjukkan foto-foto
anakku dan meyakinkan bahwa aku punya kehidupan bahagia.”
Satu jam bercakap-cakap, Ali memberanikan diri untuk bertanya tentang
ayah kandungnya. ”‘Siapa ayah kandung saya?” tanyaku . Dia langsung
menjawab,”Terry Wilson.”
Muka Ali langsung memerah. ”Itu ayahnya Sam,” tergamam Ali ketika mendapat jawaban Susan.
Ketika Ali berkata bahawa dia berteman baik dengan Sam, Susan mengaku
dirinya tahu semua tentang Sam. Dua tahun setelah ibunya Sam dan Terry
berpisah, Terry dan Susan hidup bersama-sama.
Sam dan Ali merasa belum yakin bahawa mereka ternyata saudara kandung.
Untuk menyakinkan kebenaran tersebut, mereka bulan lalu melakukan ujian
DNA.
Hanya tiga hari kemudian, hasilnya sudah dikirim. Ali dan Sam membukanya bersama-sama. ”Mereka benar!,” pekik keduanya bersama..
“Begitu aku membacakan hasilnya, aku tidak boleh berhenti tersenyum di
wajahku,” kata Ali dengan senyuman kegembiraan. ”Itu membuat suatu
perbezaan ketika kami mengetahui kebenaran,” kata Sam.

No comments:
Post a Comment