Tuesday, 14 May 2013

Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu,Nias Selatan Indonesia




Fahombo Batu merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Fahombo batu dilangsungkan sebagai menguji ketangkasan fisik dan kesiapan mental para remaja di Nias menjelang usia dewasa. Batu yang harus dilompati berupa susunan batu megalit yang tersusun mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atasnya datar. Tingginya kurang lebih 2 (dua) meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Di depannya ada batu kecil setinggi 30an cm, dimana tempat kaki dipijakkan sebelum melakukan lompatan. Dengan bentuk susunan batu tersebut maka fahombo batu tidak sekadar melompat batu. Melakukan fahombo batu memerlukan teknik khusus kerena memiliki tingkat kesulitan tertentu. Di masa lampau bagian atas batu bahkan ditutupi dengan duri dan bambu runcing tajam. Para pelompat tidak hanya harus melintasi batu tersebut, tapi ia juga harus mampu mendarat dengan posisi yang tepat. Untuk itu pelompat batu perlu menginjak batu kecil sebagai teknik mendorong daya lompatan dan kemudian mendarat dengan tepat. Salah menginjakkan kaki pada batu undukan kecil, daya dorong kurang dan kekuatan melompat akan terbatas. Kesalahan teknik dalam hal ini akan dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Kerena itu para pemuda melakukan latihan berulang-ulang. Bagi masyarakat Nias seorang pemuda dari satu keluarga yang sudah dapat melakukan fahombo batu dengan sempurna untuk pertama kalinya, merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa. Untuk kegembiraan itu, keluarga lalu mengadakan syukuran. Bagi kalangan bangsawan bahkan mengadakan acara dengan menjamu para pemuda desanya.

Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri. Dahulu kerap terjadi peperangan antar desa di Nias karena itu karena itu desa-desa di Nias selalu dikelilingi pagar dan berbagai bentuk rintangan sebagai pertahanan. Pagar dari batu, bambu atau batang kayu, dibangun mengelilingi desa setinggi kira-kira 1,5 – 2 meter. Banyak penyebab konflik dan perang antara kampung antara lain masalah perbatasan tanah, perempuan, ketersinggungan harga diri, dan masalah lainnya. Konon pula tradisi fahombo-batu ini dikaitan dengan kisah berburu kepala manusia (mangani binu) dalam legenda Awuwukha. Hal ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya peperangan antar desa. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Ketangkasan melompati benteng pertahanan yang sulit dilewati. Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain atau menyelamatkan diri akan menjadi pahlawan di desanya.

tradisi lama itu telah menjadi sebuah tarikan pelancong yang unik, tiada duanya di dunia. Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemuda Nias berpakaian adat secara bergantian melakukan fahombo batu dalam aksi ini. Bagi pelompat yang sudah mahir, fahombo batu dilengkapi dengan berbagai gaya lompatan yang menarik saat sedang melintasi tembok batu. Ada yang dengan aksi menarik dan menghunus pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi, dan lain-lain. Sehingga fahombo batu kemudian bukan lagi berupa tradisi tetapi kemudian juga mejadi sebuah aksi yang menarik, Bila seorang pelompat melakukan aksi lompatan dengan gemilang maka para penonton akan mengeluarkan sorakan kekaguman dan memberikan tepuk tangan pujian baginya. Aksi yang berlatar belakang tradisi ini menjadi satu acara yang sangat diminati pelancong yang datang ke Nias. Bahkan aksi ketangkasan ini telah memperkenalkan Nias dan dijadikan sebagai ikon pelancongan dan gambarnya tercantum pada mata uang rupiah.

No comments:

Post a Comment